Begini Cara Mengkafani Jenazah Yang Baik

Wahai saudara yang memahami dapat arti kehidupan. Mati adalah sesuatu yang tentu bagi kita, udah tentu kami berharap supaya mayat kami diurus dengan dengan benar sesuai dengan dengan ajaran Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Nah….! Kalau kami berharap supaya mayat kami diurus orang lain, maka hendaknya kami termasuk harus dapat mengurus jenazah, bagaimana langkah bikin persiapan Mengkafaninya,Maka kami coba untuk membawa pengaruh risalah jenazah yang kami sarikan dan kami nukilkan berasal dari kitab Al Wijaazah fi Tajhiizi Al Janaazah karangan Abdurrohman bin Abdulloh Al Ghaits.

Berikut Akan Kami Beritahukan langkah Mengkafani Jenazah

Mengkafani jenazah
Dibentangkan tiga lembar kain kafan, sebagiannya di atas {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} yang lain. Kemudian didatangkan jenazah yang udah dimandikan kemudian di letakkan di atas lembaran-lembaran kain kafan itu dengan posisi telentang. Kemudian didatangkan hanuth yaitu minyak wangi (parfum) dan kapas. Lalu kapas berikut dibubuhi wangi-wangian dan di letakkan di terhadap ke dua pantat jenazah, dan termasuk dikencangkan dengan secarik kain di atasnya (seperti melilit popok bayi).
Kemudian sisa kapas yang lain yang udah diberi wangi-wangian di letakkan di atas ke dua matanya, ke dua lubang hidungnya, mulutnya, ke dua telinganya dan di atas tempat-tempat sujudnya, yaitu dahinya, hidungnya, ke dua telapak tangannya, ke dua lututnya, ujung-ujung jari ke dua telapak kakinya, dan termasuk terhadap ke dua lipatan ketiaknya, ke dua lipatan lututnya, dan termasuk pusarnya. Dan diberi wangi-wangian pula terhadap kafan-kafan tersebut, termasuk kepala jenazah.
Selanjutnya lembaran pertama kain kafan dilipat berasal dari sebelah kanan dahulu, baru kemudian yang sebelah kiri sambil menyita handuk/kain penutup auratnya. Menyusul kemudian lembaran ke dua dan ketiga, seperti halnya lembaran pertama. Kemudian menambatkan tali-tali pengikatnya yang berjumlah tujuh utas tali. Lalu gulunglah lebihan kain kafan terhadap ujung kepala dan kakinya supaya tidak terlepas ikatannya dan dilipat ke atas wajahnya dan ke atas kakinya (ke arah atas). Hendaklah ikatan tali berikut dibuka pas dimakamkan. Dibolehkan mengikat kain kafan berikut dengan enam utas tali atau tidak cukup berasal dari itu, dikarenakan maksud pengikatan itu sendiri supaya kain kafan berikut tidak mudah terlepas (terbuka).
Memandikan dan Mengkafani Jenazah Korban Mutilasi

Pertanyaan:
Mohon maaf, senang tanya.
Akhir-akhir ini, ramai dibicarakan korban mutilasi yang dibuang di jalur tol. Jika kami menjumpai semacam itu, bagaimana langkah memandikan dan mengkafani jenazah korban mutilasi?
Terima kasih jawabannya, mohon maaf terkecuali merepotkan.
Dari: Imma
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu bersabda,
«لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ الْهَرْجُ» قَالُوا: وَمَا الْهَرْجُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الْقَتْلُ الْقَتْلُ»
“Kiamat tidak dapat terjadi, sampai banyak berjalan al-haraj.” Para teman akrab bertanya, ‘Apa itu al-haraj wahai Rasulullah?’ beliau menjawab, “Pembunuhan dan pembantaian.” (HR. Muslim 157).
Hadis ini beri tambahan gambaran kepada kita, perjalanan kepribadian manusia kala menjadi jauh berasal dari era kenabian. Kecenderungan untuk menahan dari berasal dari ketetapan syariah, mengakibatkan mereka menjadi bengis dan kejam. Tidak cuma bahagia dengan membunuh, penganiayaan harus berlanjut terhadap mutilasi. Mari kami perbanyak berdoa memohon kepada Allah, supaya diselamatkan berasal dari ujian kehidupan.
Selanjutnya, berkenaan langkah memandikan dan mengkafani korban mutilasi, berikut kami pemikiran keterangan ulama hanafi,
Pertama, Burhanudin Ibnu Mazah mengatakan,
وإن أوجد شيئاً من أطراف ميت كيد أو رجل أو رأس لم يغسل ولم يصلِ عليه، ولكنه يدفن
Jika cuma ditemukan potongan tubuh mayit, seperti tangan atau kaki, atau kepala saja, dia tidak dimandikan dan tidak dishalatkan, namun langsung dimakamkan.
Kemudian beliau tunjukkan keterangan berasal dari Imamnya, disebutkan oleh al-Hasan bin Ziyad berasal dari Abu Hanifah, beliau mengatakan,
إذا وجد أكثر البدن غسل وكفن وصلي عليه ودفن. وإن كان نصف البدن، ومعه الرأس غسل وصلي عليه ودفن
Jika ditemukan potongan tubuh mayat yang lebih utuh, dia dimandikan, dikafani, dishalati, dan dimakamkan. Dan terkecuali ditemukan separoh jasad dan ada kepalanya maka dikafani, dimandikan, dishalati, dan dimakamkan.
Beliau termasuk mengatakan,
وإن كان مشقوقاً نصفين طولاً، فوجد منه أحد النصفين لم يغسل، ولم يصلِ عليه، ولكنه يدفن لحرمته، وإن كان نصف البدن بلا رأس غسل، ولم يصلِ عليه. وإن كان أقل من نصف البدن ومعه الرأس غسل وكفن ودفن ولا يصلى عليه
“Jika terbelah memanjang separoh, dan ditemukan cuma separohnya, maka tidak dimandikan, tidak dishalati, namun dikubur didalam rangka memuliakan jasadnya. Jika ditemukan separoh jasad melintang tanpa kepala maka dimandikan dan tidak dishalati. Jika tidak cukup berasal dari separoh jasad dan ada kepalanya, dia dimandikan, dikafani, dikuburkan dan tidak dishalati.” (al-Muhith al-Burhani, 2:364).
Kedua, keterangan didalam Hasyiyah Ibn Abidin,
لو وجد طرف من أطراف إنسان أو نصفه مشقوقا طولا أو عرضا يلف في خرقة إلا إذا كان معه الرأس فيكفن
“Jika ditemukan potongan anggota badan manusia atau ditemukan separoh badan terbelah memanjang atau melintang, memadai dibungkus dengan kain (tidak dimandikan), terkecuali terkecuali ada kepalanya maka dia dikafani.” (ar-Raddul Mukhtar, 2:222).
Dari {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} keterangan di atas, kami dapat menyita kesimpulan,
1. Potongan jasad mayat, ada yang disikapi sebagai seperti manusia utuh dan ada yang disikapi bukan sebagai manusia.
2. Potongan jasad yang disikapi sebagaimana seperti manusia, harus dimandikan, dikafani, dishalati dan dimakamkan sebagaimana seperti jenazah. Sebaliknya, potongan jasad yang tidak disikapi sebagaimana seperti manusia, tidak dimandikan dan tidak dishalati, namun memadai dibungkus dengan kain dan dikuburkan.
3. Potongan yang disikapi sebagai jasad manusia utuh:
Potongan jasad mayat yang lebih berasal dari separoh, meskipun tanpa kepala
Potongan tidak cukup berasal dari separoh badan dengan kepala
4. Potongan yang disikapi BUKAN sebagai jasad manusia utuh
Hanya potongan anggota badan, seperti tangan, kaki
Hanya potongan separoh tanpa kepala.
Allahu a’lam

UKURAN DARI KAIN KAFAN UNTUK JENAZAH :
Panjang kain kafan ± 15,5 meter, dengan potongan kain sebagai berikut :
a. Kafan 2 lapis dengan panjang @ 2,5 m X lebar kain + 0,5 m lebar potong kain. Total 7,5 meter
b. Baju dengan panjang 2,5 meter, diambil alih 2/3 berasal dari lebar. Sisanya 1/3 untuk sorban. Total 2,5 meter
c. 1,5 meter untuk lengan baju, 2/3 berasal dari lebar untuk baju. Sisanya 1/3 untuk anak baju. Total 1,5 meter
d. 1 meter untuk sal atau selendang. Total 1 meter
e. 1,5 meter untuk kuncir pinggang (1/3 berasal dari lebar). Total 1,5 meter

Pertama siapkan segala sesuatunya yang dibutuhkan untuk mengkafani mayat (kain kafan dan lain-lain). Kemudian sobek anggota tepi/pinggir kain kafan tersebut, sesudah itu potong kain kafan berikut (sesuaikan dengan ukuran pemotongan kain kafan sebagaimana udah disebut terhadap huruf B di atas). Hal berikut hendaklah sesuai dengan keadaan badan / fisik si mayat.
Seterusnya buatlah bajunya, kain sarungnya, cawatnya dan termasuk sorban bagi mayat laki-laki atau kerudung bagi mayat perempuan. Disunnatkan terhadap pertama kali menyobek kain berikut dengan membaca :

(Allahummaj’al libaasahu (ha) ‘anil kariim wa adkhilhu (ha) Ya Allahu ta’ala birahmatikal Jannata yaa arhamarraahimiin.

Artikel Terkait
Tata Cara Memandikan Jenazah & Cara Memandikan Jenazah

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *